Kamis, 21 April 2016
Jumat, 08 April 2016
Kisah Dhamma Inspiratif
“KISAH
DHAMMA INSPIRATIF”
Oleh
: Mujiyanto
Semakin seseorang
menjalankan Dhamma, semakin akan merasakan kebenaran Dhamma, dan semakin
berkembang keyakinannya terhadap ajaran Buddha. Dengan demikian, orang yang
menjalankan Dhamma akan merasakan kebahagiaan sebagai buah melaksanakan Dhamma.
Maka dari itu dikatakan bahwa Dhamma itu indah pada awalnya, indah pada
pertengahannya, dan indah pada akhirnya.
Dhamma sebagai sumber
inspirasi bagi seseorang dalam menjalani kehidupan, karena setiap kali
seseorang yang mengalami suatu masalah, tanggungjawab besar, tugas, musibah,
dan segalanya maka seseorang itu akan sadar dalam menjalani kehidupan itu
karena telah memiliki keyakinan penuh serta pengetahuan yang benar mengenai
Dhamma. Manfaat mendengarkan Dhamma bagi seseorang yaitu dapat mengetahui
Ajaran Buddha yang sebelumnya tidak diketahui, akan melenyapkan
kekurangpahaman, menghilangkan keragu-raguan, menambah keyakinan, memiliki
pandangan benar, serta batin menjadi tenang dan bahagia.
Ada sebuah kisah
nyata dari kehidupan satu keluarga, tepatnya di Ds.Bleber, kec.Cluwak Kab.Pati
–Jateng.
Bermula dari kisah sebuah
keluarga yang dulunya sangat bahagia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Keluarga itu terdiri dari 6 anggota keluarga yaitu Arisman (bapak), Suwarni
(Ibu), Supri (nenek/ibu dari Suwarni), Dani (anak pertama), Reva (anak kedua),
dan Tena (anak ketiga). Keluarga ini menjalani kehidupan dengan berpisah dari
keluarganya dari Arisman yang bekerja diluar daerah tepatnya di Lampung yang
meninggalkan keluarganya, sedangkan anak pertama Dani yang bersekolah di Jepara
(SMP) sehingga dari seluruh anggota sulit untuk berkumpul bersama dan hanya
mencapai kebahagiaan jarak jauh (LDR).
Suatu
ketika musibah besar menimpa dari keluarga tersebut, dimana sang ayah (Arisman)
meninggal dunia di Lampung akibat terserang penyakit parah. Mendengar berita
tersebut keluarga merasa terpukul, merasa tak ada harapan dalam menjalani hidup
ini karena hanya sang ayah yang menjadi tulang punggung dari keluarga. Ketika
jenasah sudah tiba di Pati semua keluarga merasa tidak percaya dengan kejadian
itu, tetapi tak ada yang dapat dilakukan lagi semuanya sudah terjadi.
Dengan
peristiwa tersebut memberikan pukulan terberat bagi pihak keluarga yang
ditinggalkan terutama sang istri (Suwarni) yang harus berpikir lebih keras
untuk mencari nafkah demi menghidupi ibu dan ketiga anaknya. Akhirnya Suwarni
memutuskan untuk meninggalkan keluarganya demi mengadu nasib di Taiwan, dengan
pemikiran supaya dapat memperoleh banyak uang dan merubah kehidupannya yang berat.
Ratap tangis kembali terulang ketika keluarga ini harus berpisah, dimana
Suwarni harus rela meninggalkan Ibu dan katiga anaknya yang masih kecil. Tak
kuat menahan tangis akibat Suwarni harus meninggalkan anak ke-3 nya yang masih
berusia 7 bulan, tetapi dengan keyakinan dan keteguhan hati Suwarni memilih hal
tersebut.
Dua
tahun sudah Suwarni mengadu nasib di Taiwan, dia kembali untuk ke Kampung halamannya untuk
bertemu keluarganya. Semua sudah berubah, dimana ketiga anaknya yang dirawat
neneknya sudah tumbuh besar. Mengetahui hal itu Suwarni senang sekali dan
bersemangat untuk selalu bekerja, dan bekerja demi menyekolahkan anaknya.
Suwarni yang dikenal sebagai wanita yang tabah, memiliki keyakinan kuat akan
Dharma, rajin ke Vihara dan rajin berdana di Vihara maupun kepada anggota
sangha. Semangatnya bertambah ketika dia mampu berdana Jubah tiap event hari
raya umat Buddha kepada anggota Sangha (meskipun berada jauh di Taiwan). Dan
juga ia sangat gembira sekali ketika bertemu dengan anggota sangha dan dapat
berdana makanan di rumahnya. Pertemuan yang pertama kali dan seumur hidup baru
sekali dia bertemu dengan anggota sangha, hal ini tidak disia siakan oleh
Suwarni untuk berdiskusi tentang masalah kehidupannya serta meminta inspirasi
akan pengetahuan Dhamma yang lebih dari anggota sangha itu. Kesempatan sehari
itu dia menceritakan segala hal yang menjadi beban dia dalam melakukan hal yang
baik demi membahagiakan keluargannya. Di dalam kesempatan itu anggota sangha
memberi suatu Dhamma kepada keluarga Suwarni, serta motivasi yang kuat kepada
Suwarni.
Suwarni
mendapatkan sebuah semangat baru, inspirasi dari Dhamma yang disampaikan oleh
anggota sangha tersebut. Akhirnya Suwarni kembali bekerja ke Taiwan untuk
mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan keluargannya. Setiap kali pulang
kampung Suwarni tidak lupa untuk berdana ke Vihara, dan juga kepada anggota
sangha setiap kali ada perayaan Khatina. Perilaku baik inilah yang selalu dibiasakan
oleh Suwarni dan selalu diterapkan kepada anak-anaknya, karena Suwarni berharap
anak-anaknya menjadi anak yang selalu jujur, rajin kevihara, serta berbuat
baik, dan menjadi anak yang bisa berguna bagi keluargannya meskipun tanpa ada
pendidikan dari sesosok ayah.
Dalam kisah ini sangat memberi
inspirasi bagi Suwarni ketika dia mampu melaksanakan Dhamma yang telah
disampaikan kepadanya. Selain itu cerita ini juga menajak kita untuk selalu
bersyukur, dan semangat ketika kita sering mendengarkan Dhamma, dan selau melakukan sesuatu hal yang
dapat merubah hidup kita sesuai dengan pedoman Dhamma. Seperti kisah Suwarni
yang bekerja di luar negeri, ia jarang memperoleh pengetahuan akan Dharma yang
lebih saat dia meninggalkan Indonesia. Tetapi, hal lain merubah pola pikirnya
untuk selalu semangat ketika dia mendapatkan sebuah inspirasi dan motivasi dari
anggota Sangha yang pada saat itu bertemu meskipun hanya beberapa jam.
Rabu, 09 Maret 2016
Matematika dan Buddhisme
MATEMATIKA
DAN BUDDHISME
Penemu
lambang bilangan nol tidak dapat diketehui lagi, namun penelitian sejarah
membuktikan bahwa bangsa india yang pertama kali mengembangkannya (Encyclopedia
Britannica). Penemu angka nol ini erat kaitannya dalam rangka menjelaskan
konsep mengenai “ketiadaan”. Ketiadaan merupakan suatu konsepsi yang sulit bagi
para pemikir di zaman kuno. Ketiadaan dilipatgandakan berapa kali saja tetap
merupakan ketiadaan.
Lambang
bilangan nol kemudian diambil alih dalam lambang bilangan Hindu Arab (keturunan
lambang bilangan India Kuno) yang merupakan nenek moyang bagi lambang bilangan
yang kita kenal sekarang ini. Hal yang menarik adalah bahwa ternyata bangsa
barat dapat dikatakan “terlambat” dalam mengenali lambang bilangan nol ini.
Bangsa
Barat baru mengenali lambang bilangan Hindu Arab (dan tentunya juga angka nol)
pada sekitar abad ke-12, dimana sebelumnya mereka menggunakan lambang bilangan
romawi yang tidak mempunyai angka nol. Salah seorang yang mempopulerkan
penggunaan lambang bilangan hindu Arab tersebut adalah Fibonacci (1170-1250),
yang juga terkenal dengan deretnya (Deret Fibonacci). Ia adalah seorang ahli
matematika Italia yang lahir dan wafat di pisa. Fibonacci, dalam bukunya
berjudul Liber Abaci, menggunakan kesembilan lambang bilangan Hindu Arab yakni:
1, 2,3,4,5,6, 7, 8, 9 bersama dengan 0. Namun penggunaanya belumlah begitu
meluas di kalangan para ahli matematika hingga abad ke-16 dan ke-17 dalam masa
Renaisans. Cardan (1500), seorang ahli matematika, menemukan bahwa memecahkan
peramaan kubik (pangkat tiga) dan kuadrat menjadi lebih mudah dengan melibatkan
bilangan nol yang kemudian makin populer pada sekitar tahun 1600-an.
Penggunaan
lambang bilangan baru tersebut telah mempercepat kemajuan sains di Eropa. Kita
tidak dapat membayangkan seandainya konstanta Planck haru ditulis dengan angka
romawi, atau menuliskan jarak antara galaksi dengan lambang bilangan yang sama.
Elain itu, angka Romawi memiliki keterbatasan sehingga tidak dapat digunakan
untuk menuliskan angka-angka yang luar biasa besarnya. Kita ambil contoh
1.000.000.000.000.000.000.000.000 atau suatu angka yang mengandung 24 angka nol
yang tidak dapat dituliskan dengan lambang bilangan Romawi.
Bahkan
angka yang relatif kecil saja sudah sulit ditulis dalam angka Romawi. Sebagai
contoh, 1998 ditulis dengan MCMXCVIII;2000 dengan MM. Bisakah anda menghitung
angka dengan menggunakan simbol angka Romawi ini?
Sistem
lambang bilangan Hindu Arab juga berkaitan
dengan sistem penulisan desimal yang kita kenal sekarang yaitu dengan menggunakan sistem tempat dalam
menuliskan lambang bilangan sebagai contoh kita ambil angka 4.256. Angka enam
yang pertama dari belakang disebut satuan karena hanya mewakili 6 sebagai suatu
kesatuan. Angka lima pada tempat kedua dari belakang disebut puluhan, karena
mewakili 5 kali 10. Angka berikutnya disebut ratusan, karena mewakili 2 kali
100, dan angka empat yang paling depan disebut ribuan karena mewakili 4 dikali
1000. Dengan demikian 4.256 berarti 6 ditambah 50 ditambah 200 ditambah 4000.
Sungguh suatu bentuk penulisan yang praktis.
Lambang
bilangan Hindu Arab dapat pula digunakan untuk menuliskan angka hingga mencapai
ketakterhinggaan. Salah satu contoh praktis adalah dengan cara menambahkan satu
angka nol dibelakang sebuah angka lainnya sehingga jumlahnya akan secara
otomatis bertambah sepuluhy kali lipat (10 ditambah satu angka nol menjadi 100,
ditambah satu angka nol lagi menjadi 1000 dan demikian seterusnya hingga tak
terbatas). Inilah keunggulan lambang bilangan Hindu Arab dibandingkan dengan
lambang bilangan Romawi.










